01.50
1

Tulisan ini dimuat di rubrik pesantren di majalah hidayah edisi 59, juni 2006
Siang itu, suasana pondok pesantren al-Iman tidak nampak seperti biasa. Tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Tak terdengar suara guru di kelas atau suara ustadz yang mendaras kitab kuning di depan para santri. Ruangan kelas sebagai tempat belajar, tampak sepi dan kosong. Hanya ada belasan santri yang mengenakan sarung nampak di lingkungan pesantren sedang santai. Sementara beberapa pengurus lebih memilih berada di ruang staf pengajar.
Maklum, saat Hidayah mengunjungi pondok pesantren tertua di kabupaten Purworejo ini, santri-santri sedang menikmati masa liburan. Tak salah, kalau sebagian besar santri sama pulang ke rumah masing-masing. Apalagi, kebanyakan santri-santri ponpes al-Iman ini berasal dari daerah sekitar Purworejo,meski tidak dimungkiri ada juga yang berasal dari luar pulau Jawa. Hidayah hanya menjumpai beberapa gelintir santri yang nampak di lingkungan pondok sedang melepas lelah dan duduk-duduk di depan biliknya.
“Ini masa liburan, jadi para santri sebagian besar sama pulang ke rumah,” kata KH. Hasan Agil Ba`bud, yang kini menjadi pemimpin pondok pesantren al-Iman setelah menerima kedatangan Hidayah di kediamannya yang masih berada di lingkungan pondok.
Pesantren yang terletak di desa Bulus ini memang lumayan jauh dari pusat keramaian kota Purworejo. Dari jalan raya, juga masih masuk sekitar dua kilometer. Letak persis-nya, berada di tengah-tengah kampung. Kendati demikian, sebagai tempat “menimba ilmu”, lokasi pesantren ini tidak ditepis cukup “asri”. Sebab lumayan jauh dari kebisingan kota. Ada nuansa teduh serta nyaman yang dirasakan oleh Hidayah tatkala pertama kali memasuki pesantren yang memiliki sejarah panjang ini. Tak salah, pesantren ini bisa menjadi tempat yang nyaman untuk menimba ilmu bagi anak-anak yang tinggal di sekitar wilayah Purworejo.
Dulu Al-Islamiyah, Kini Al-Iman
Setiap bangunan pondok pesantren, tentunya memiliki sebuah riwayat. Tak terkecuali pesantren al-Iman yang dulunya bernama al-Islamiyah ini. Pondok yang terletak di desa Bulus ini, konon didirikan oleh seorang ulama besar, yakni Mbah Ahmad Alim. Bahkan pesantren al-Iman ini, merupakan pesantren tertua di kabupaten Purworejo. Dengan kata lain, sebelum di kabupaten itu berdiri pesantren, ternyata al-Islamiyah ini sudah berdiri dan menjadi pioner. “Mbah Ahmad Alim itu masih misterius. Makamnya memang ada di sini, dan menurut beberapa saksi, ada yang bilang sekitar tahun 1700-an, 1750-an atau 1800-an dan kampung Bulus ini dulunya adalah hutan belantara,” tutur KH. Hasan Agil Ba`bud mengawali cerita awal mula berdirinya pesantren al-Islamiyah.
Mbah Ahmad Alim itu sebagaimana diceritakan oleh KH Hasan Agil Ba`bud, konon dibuang Belanda dan sampailah di Bulus yang pada waktu itu masih sebuah hutan belantara. Karena itu, masuknya kiai Ahmad Alim ke kampung Bulus itu bersamaan berdirinya desa Bulus. Sebab selain babat alas, Mbah Ahmad Alim juga mendirikan pesantren. Tak salah jika Mbah Ahmad Alim itu menjadi sebab asal-usulnya desa Bulus. Adapun penamaan kampung Bulus, lantaran dulunya di tempat itu banyak hewan bernama Bulus. “Konon ketika memasuki hutan belantara, Mbah Ahmad Alim melihat binatang yang bernama bulus. Terus dinamakan desa ini dengan desa Bulus,’ cerita pemimpin pesantren yang dikenal cukup bersahaja ini.
Kendati dikenal sebagai pendiri dan pembabat alas (desa), anehnya riwayat dari Mbah Ahmad Alim itu sendiri tidak banyak dikethui. “Memang dia itu dikenal sebagai seorang sufi. Hanya asal-usulnya sampai saat ini masih misterius. Tidak ada yang tahu, beliau itu dari mana. Tetapi konon beliau itu masih keturunan Sunan Gresik-Jatim,” jelas pemimpin pesantren yang beristrikan Aisyah ini.
Setelah tahun berlalu, lambat laun pesantren yang didirikan itu mulai didatangi santri. Dengan berkembangnya zaman, kiai Ahmad Alim bahkan sempat memiliki santri yang cukup alim, dan di antaranya bahkan ada yang mashur (terkenal), seperti Kiai Shaleh Darat Semarang.
Setelah kiai Ahmad Alim wafat, tapuk kepemimpinan pesantren diteruskan oleh salah satu menantunya, bernama Raden Sayyid Ali. Menurut keterangan KH. Hasan Agil Ba`bud, dipilihnya menantu sebagai pemegang tapuk pimpinan pesantren dikarenakan sang menantu itu dikenal cukup alim dan masih keturunan sayyid. Kiai Ahmad Alim juga memberikan tanah-tanah di Bulus kepada menantunya, dan tidak menghendaki anak-anak keturanannya sendiri untuk tinggal dan memegang pimpinan pesantren.
Mungkin ada yang aneh dengan pilihan Mbah Ahmad Alim itu. Tapi lebih aneh ternyata anak-anak keturunan Mbah Alim malah disuruh keluar dari desa Bulus. “Anak-anakku kabeh sak anak putuku, yen kepengen dadi wong mulya dunia akherat, tak jaluk metu teko Bulus ini, sebab Bulus ini sudah aku wakahkan kepada Sayyid Ali sak anak turune. (Anak-anakku semua, dan juga cucu-cucuku, kalau ingin jadi orang mulia di dunia-akherat, aku minta kalian keluar dari Bulus. Sebab, Bulus ini sudah aku waqahkan pada Sayyid Ali bersama anak turunannya),” kata Mbah Ahmad Alim pada anak-anaknya sebagaimana ditirukan KH. Hasan Agil Ba`bud kepada Hidayah.
Alasan di balik itu, menurut KH. Hasan Agil Ba`bud karena dilandasi keikhlasan (lillahi ta`ala). “Karena sangat cinta kepada seorang sayyid yang juga alim. Itu terjadi sekitar tahun 1800-an (pada zaman Pangeran Diponegoro). Ya, karena cinta pada orang alim, juga sayyid, maka Mbah Ahmad Alim mengorbankan anak-anaknya untuk keluar dari Bulus. Di antara anak-anaknya itu ada yang mendirikan pesantren Maron, Solotiang, Al-Anwar (masih saudara-red)”.
Dari Sayyid Ali, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan anaknya, yakni Sayyid Muhammad, lalu diteruskan Sayyid Dahlan. “Dulu itu di pesantren ini hanya mengaji saja, terus oleh Sayyid Muhammad dibangun-lah madrasah. Madrasah itu dibangun dalam bentuk formal, tetapi formal diniyah bukan formal ala madrasah. Dengan kata lain, bukanlah campur-campur umum. Tetapi madrasah diniyah (klasika–red) pada waktu itu benar-benar luar biasa, karena ponpes yang ada di Jawa secara umum yang namanya salafi, hanya berpaku pada kitab saja tidak dengan model madrasah. Juga, belum tertib, belum termenej betul. Yang namanya belajar di papan tulis saja belum ada, bahkan min bakdil ulama saat itu malahan mengatakan bahwa memindahkan ayat-ayat Qur`an di papan tulis, itu haram. Itu hak beliau, orang-orang dulu dan mbah-mbah (pendiri—red) sini dulu sudah berani menciptakan metode madrasah dan itu pertama di Purworejo. Belum ada sistem madrasah sehingga waktu itu ada banyak orang kota yang b! elajar di sini. “
Kepemimpinan Sayyid Kiai Dahlan berakhir sekitar tahun 1935-an. Setelah itu pondok menjadi vakum. Kevakuman itu akibat dari keboyongan (kepindahan) kiai ini ke Kauman, dekat masjid Jami` Purworejo. Karena saat itu sang kiai diminta oleh Bupati Cokronegera pindah ke Kauman untuk menjadi imam dan kiai di Kauman. Apalagi waktu itu keadaan lagi dalam masa revolusi, istilahnya adalah zaman kles, zaman penjajahan Belanda, zaman agresi dan zaman ketidakpastian. Tak salah, jika banyak ponpes yang kacau, banyak yang fatroh dan itu juga terjadi di pesantren al-Islamiyah.
Setelah lama vakum dan tidak ada aktivitas lagi, pesantren di Bulus itu dibangun atau dihidupkan kembali oleh Khadratul Walid (Abah KH. Hasan Agil Ba`bud–red) sekitar tahun 1955. Bersamaan itu, ponpes di kampung Bulus yang dulunya bernama al-Islamiyah kemudian diganti nama “al-Iman”. “Jadi, nama al-Iman itu dimulai dari abah (Khadratul Walid). Karena dulunya beliau pernah belajar pada Ustadz Segah Al-Juhry di Magelang dan beliau memiliki madrasah yang namanya al-Iman. Karena untuk tabarrukan dan tafakkul, maka mengambil nama dari pendidikan gurunya. Sejak itu, ponpes ini bernama al-Iman. Juga dibentuk Yayasan. Jadi, fungsi kiai seperti saya di sini adalah sesepuh, pengasuh, ketua yayasan dan sekaligus penanggung jawab,” tutur sang kiai yang tidak mau terlibat dengan politik praktis ini tentang nama al-Iman.
Dari Khadratul Walid, pesantren kemudian dipegang Sayyid Agil, adik dari Khadratul Walid. Setelah dibangun oleh Khadratul Walid itulah, mulai berdiri madrasah model klasikal, meski masih dengan cara lama. Dengan kata lain, formal tapi diniyah. Tapi sudah mulai berani memasukkan pelajaran umum, seperti bahasa Inggris, Indonesia. Tetapi non-formal, karena belum bisa mengadakan ujian negeri. Anak-anak di pesantren masih ikut ujian negeri formal, dan ujiannya waktu itu bergabung di Kebumen, Wonosobo, dan juga Solo. Karena ketika itu, di Purworejo sendiri belum ada MAN dan MTsN.
Perkembangan pesat pesantren itu mulai terjadi sekitar tahun 1985, sejak dipimpin oleh KH Hasan Agil Ba`bud. “Bisa dikatakan mulai jaman saya sampai sekarang! Di samping ngaji, juga ada sekolah. Kita sekarang ini membikin sistem ponpes dengan ciri khasnya, ya… untuk memperdalam ilmu agama. Alhamdullih sampai sekarang maju….”

Dari Subuh sampai Malam
Jika berbicara soal aktifitas di ponpes al-Iman, saat hari-hari biasa, jelas kegiatan belajar mengajar cukup padat. Dari subuh sampai malam, hampir dikatakan tak ada jam jeda panjang. Di kala adzan Subuh berkumandang, santri-santri biasanya akan segera bergegas ke masjid (pondok) yang terletak tepat di tengah-tengah bangunan pesantren. Setelah shalat Subuh berjama`ah itu, biasanya aktifitas belajar mulai tampak.
“Setelah subuh, ada bermacam-macam kegiatan. Karena di sini ini klasikal, maka yang kecil-kecil seperti santri tingkat SLTP dan Tsanawiyah (kelas 1-2) difokuskan pada bacaan al-Qur`an. Sementara yang agak besar mengaji kitab dengan tata cara “bandongan”, yakni gurunya membaca sedang muridnya mendengarkan dengan seksama. Adapun yang lebih besar lagi, guru-gurunya, juga pengurus-pengurus, ngaji kitab yang besar, seperti Bukhari, Muslim, dan Ihya,” jelas pemimpin Yayasan al-Iman.
Setelah mentari muncul di ufuk Timur, yakni sebelum kegiatan belajar formal dimulai, ternyata masih juga ada kegiatan mengaji dalam bentuk bandongan. Setelah selesai, santri yang ikut sekolah formal masuk sekolah. Seperti pada umumnya sekolah di manapun, sekolah formal al-Iman berakhir jam satu siang. Istirahat. Lalu, jam dua ada Diniyah (ya klasikal tapi khusus ngaji). Jam dua sampai jam 4. Istirahat saat shalat Asar.
Setelah Asyar, ada lagi kegiatan mengaji. Tetapi menurut keterangan KH Hasan Agil Ba`bud, kegiatan itu tidak bersifat mengikat. “Ya, yang mau ngaji monggo dan yang tak mau ngaji juga monggo.”
Sementara sehabis shalat Maghrib, seperti kegiatan di ponpes lain, di pesantren al-Iman juga masih ada kegiatan ngaji. ”Waktu ngaji habis Maghrib ini, dengan sistem sorogan atau weton. Saya sendiri yang memegang (di rumah kiai –red). Itu dimulai sekitar setengah tujuh, jam sebelas atau jam duabelas malam. Untuk kitab-kitabnya adalah kitab nahwu dan sharaf. Sedang untuk santri yang masih tingkat sekolah formal tingkat Aliyah, mereka itu mengaji bandongan.
Khusus malam Jum`at, di pesantren ada kegiatan berjanji. Yang jelas masalah belajar taklim, di pesantren al-Iman boleh dikata cukup padat. “Di sini, kita full-kan dan tidak terlalu ketat, tak banyak aturan dengan tetek bengek peraturan. Yang jelas, santri-santri diberikan kegiatan belajar yang padat. Jadi, tak ada waktu untuk dolan, nonton tv. Seandainya dikasih tv, toh mereka juga tak sempat nonton tv. Tetapi di pondok tetap ada tv. Itu dimaksudkan untuk hari liburan, biar mereka itu mengerti tentang dunia luar,” tutur kiai tentang kegiatan belajar dan kebebasan yang diberikan di lingkungan pesantren.
Memang di pesantren al-Iman itu kegiatan belajar cukup padat. Hanya di hari Jum`at hampir seharian penuh, kegiatan di pesantren libur. Bahkan sejak hari Kamis sore itu, setelah Asyar sampai jumat sore (maghrib) itu adalah hari libur dan hari bebas.

Menekankan Qur`an dan Sharaf
Setiap pesantren, pastilah memiliki “ciri khas” dan jenis-jenis kitab kuning yang amat ditekankan. Hal itu juga berlaku di pesantren al-Iman. Sebagaimana dijelaskan KH. Hasan Agil Ba`bud, di pesantren al-Iman itu yang ditekankan adalah Qur`an dan sharaf. “Yang saya tekankan pertama adalah anak-anak itu harus bisa membaca Qur`an dengan fasih. Kedua, dia menguasai dengan fasih dan mahraj yang bagus. Juga, kita tekankan bagaimana nanti bisa menerjemahkan Qur`an dan tahu artinya. Karena itulah, sambil jalan, mereka dibelakali ilmu nahwu dan sharaf, tentunya untuk mempelajari kitab. Sebab jika santri itu tidak tahu nahwu dan sharaf, maka mustahil dia bisa memahami kitab”.
Pondok pesantren al-Iman yang memiliki santri sekitar seribu santri ini, hingga kini sudah tidak terhitung mencetak santri. Alumni yang dididik dari pesantren al-Iman, kini ada bertebaran di segala bidang. “Alhamduliiah alumni di sini ada di segala bidang, sebab kita tak menekankan semua santri harus menjadi seorang kiai. Ya… menjadi apa saja, yang penting memiliki manfaat dan berguna, sehingga banyak yang masuk Polri, Angkatan Darat, Akademis yang sifatnya umum. Sebab jika mereka berasal dari pesantren dan bisa masuk ke berbagai jalur (bidang) itu, malah saya senang. Sebab bukan jalurnya saja mereka mampu.”
Memang, KH. Hasan Agil Ba`bud tak muluk-muluk menaruh harapan bagi santri lulusan pesantren al-Iman. Yang beliau harapkan itu cuma satu, yakni ingin anak-anak itu bermanfaat di segala bidang (khairun nas). Mau jadi pegawai ya… monggo. Bikin formal ya untuk alasan ini. Yang jelas setelah mereka didasari agama yang kuat, pesantren ini tidak boleh kehilangan jatidiri. Yang namanya ponpes ya tafakku fi ad-din, saya tidak suka modernnya kelewat batas sehingga sampai-sampai melupakan jatidiri atau bahkan hilang.
 
TEMPLATE ERROR: Invalid data reference post.url: No dictionary named: 'post' in: ['blog', 'skin', 'view']